AsS. w/R w/B.
Bulan "genit"
```````````````````
Judul subject diatas memang tidak bisa dipilihkan dengan judul yang lain, paling tidak menurut penulis disini.
Betapa tidak "genit", Bulan muncul tiap malam dan harus diwaktukhususkan untuk ditengok. Benar, waktu khusus, bukankah pada malam hari manusia di hamparan bumi sering meluangkan waktu untuk melepas lelah dengan beristirahat? Apalagi Nihonjin, mereka sedang asyik berendam Ofuro. Banyak manusia melepas lelah dengan beristirah dibawah naungan payung atap-atap rumah, hingga memejamkan mata di peraduan.
Itulah mengapa sang-Bulan seakan berkata "Kalau engkau, hai manusia, memerlukanku, khususkan waktumu tuk jenguk diriku".
Manakala, umur Bulan sedang muda, ia menampakkan dirinya berbentuk sabit dengan menengadah ke atas. Ia hanya bisa ditengok pada waktu antara Maghrib dan tengah malam saja. Namun dikala ia berumur tua tertelungkuplah sabitnya menghadap ke bawah, dan hanya bisa ditemui pada waktu tengah malam sampai shubuh. Begitu "genitnya", pada umur tua malahan harus ditengok hanya pada lepas malam.
Meskipun demikian, ia begitu bercahaya pada saat-saat 'nisfu' pertengahan antara usia muda dan tua. Cahayanya seakan menerangi hamparan bumi yang "bertatap" langsung dengannya. Bentuknya pun bulat mempesona dengan wajah aslinya. Cahaya dan bentuk wajah Rembulan itu akan berbeda pada tengah bulan persis dan pada hari bersisiannya, 13,14 dan 15. Cahaya limabelas akan berbeda dengan cahaya empatbelas maupun tigabelas. Pendeknya, iIa ingin dikenali dengan nama Purnama.
"Kegenitan" semakin menjadi-jadi ketika ia memberi isyarat peredaran-usia manakah yang genap berjumlah tigapuluh atau duapuluh-sembilan hari, semenjak usia-muda sampai tuanya. Ia tunjukkan semua itu dengan purnamanya, sekali lagi purnamanya, dimulai pada malam itu di akhir-malamkah atau di awal-malamkah?
Selain itu, ternyata, Bulan pun sering "mengerdipkan" mata yang kita kenal dengan penampakan Hilal di tahapan awal usia-muda dirinya. Kepenasaran manusia pun semakin bertambah, manakala langit diliputi awan. Ia seakan mengajak 'petak-umpet' dengan mahluk-mahluk di hadapannya, di atas muka bumi ini.
Semua itu seakan, ia, sang Rembulan, memberi isyarat, bahwa dirinya bukan hanya Hilal semata. Apalagi hilal yang dihubungkan dengan teknologi dan semacamnya.
Ia pun seakan berkata "Kenali aku, maka kalian, hai manusia, tidak berselisih pendapat tentang waktu-waktuku...".
WasS.,
abu hafidz al yaban.
Bulan "genit"
```````````````````
Judul subject diatas memang tidak bisa dipilihkan dengan judul yang lain, paling tidak menurut penulis disini.
Betapa tidak "genit", Bulan muncul tiap malam dan harus diwaktukhususkan untuk ditengok. Benar, waktu khusus, bukankah pada malam hari manusia di hamparan bumi sering meluangkan waktu untuk melepas lelah dengan beristirahat? Apalagi Nihonjin, mereka sedang asyik berendam Ofuro. Banyak manusia melepas lelah dengan beristirah dibawah naungan payung atap-atap rumah, hingga memejamkan mata di peraduan.
Itulah mengapa sang-Bulan seakan berkata "Kalau engkau, hai manusia, memerlukanku, khususkan waktumu tuk jenguk diriku".
Manakala, umur Bulan sedang muda, ia menampakkan dirinya berbentuk sabit dengan menengadah ke atas. Ia hanya bisa ditengok pada waktu antara Maghrib dan tengah malam saja. Namun dikala ia berumur tua tertelungkuplah sabitnya menghadap ke bawah, dan hanya bisa ditemui pada waktu tengah malam sampai shubuh. Begitu "genitnya", pada umur tua malahan harus ditengok hanya pada lepas malam.
Meskipun demikian, ia begitu bercahaya pada saat-saat 'nisfu' pertengahan antara usia muda dan tua. Cahayanya seakan menerangi hamparan bumi yang "bertatap" langsung dengannya. Bentuknya pun bulat mempesona dengan wajah aslinya. Cahaya dan bentuk wajah Rembulan itu akan berbeda pada tengah bulan persis dan pada hari bersisiannya, 13,14 dan 15. Cahaya limabelas akan berbeda dengan cahaya empatbelas maupun tigabelas. Pendeknya, iIa ingin dikenali dengan nama Purnama.
"Kegenitan" semakin menjadi-jadi ketika ia memberi isyarat peredaran-usia manakah yang genap berjumlah tigapuluh atau duapuluh-sembilan hari, semenjak usia-muda sampai tuanya. Ia tunjukkan semua itu dengan purnamanya, sekali lagi purnamanya, dimulai pada malam itu di akhir-malamkah atau di awal-malamkah?
Selain itu, ternyata, Bulan pun sering "mengerdipkan" mata yang kita kenal dengan penampakan Hilal di tahapan awal usia-muda dirinya. Kepenasaran manusia pun semakin bertambah, manakala langit diliputi awan. Ia seakan mengajak 'petak-umpet' dengan mahluk-mahluk di hadapannya, di atas muka bumi ini.
Semua itu seakan, ia, sang Rembulan, memberi isyarat, bahwa dirinya bukan hanya Hilal semata. Apalagi hilal yang dihubungkan dengan teknologi dan semacamnya.
Ia pun seakan berkata "Kenali aku, maka kalian, hai manusia, tidak berselisih pendapat tentang waktu-waktuku...".
WasS.,
abu hafidz al yaban.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home